Rabu, 16 Januari 2008

Investigative Reporting.


Ada sebuah film baru. The Hunting Party. Film ini menggambarkan sisi-sisi sebenarnya dari sebuah Investigative Reporting (IR) dalam dunia jurnalistik. Simon Hunt (Richard Gere) menampilkan sosok jurnalis yang meyakini bahwa suatu nilai berita (news value) itu adalah realita yang sebenarnya terjadi dan harus ditampilkan sebagaimana adanya. Sedangkan Duck (Terrence Howard) berpendapat sebaliknya. Menurutnya, berita adalah realita yang dikemas untuk kepentingan sebuah tontonan dan kepentingan politik sepihak. Keduanya berseberangan, tapi keduanya juga bisa terus berjalan dengan keyakinannya masing-masing.


Investigative Reporting. Secara tex books dapat diartikan sebagai Laporan Penyelidikan. Tapi dalam dunia jurnalistik lebih dikenal sebagai Laporan Mendalam (Depth Reporting). IR dilaksanakan sebagaimana proses investigasi dilakukan, yaitu melalui tahap perencanaan (planning), sosialisasi diri (community penetrations), penentuan sasaran (focus of interest), pengambilan data langsung (report on location), pengolahan data (news proccesing), pengembangan data (news development), editing, serta penyajian berita (news expose).


Tugas melaksanakan IR ini memerlukan kematangan profesionalisme. Seorang jurnalis yang melaksanakan IR, tidak hanya matang dalam hal kemampuan jurnalistik saja, juga harus mapan dalam hal keberanian di lapangan (psy strenght). Banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam melaksanakan tugas IR ini. Tidak hanya intelektual, kalau perlu nyawa juga harus rela dipertaruhkan.


Pertama kali, harus direncanakan terlebih dahulu langkah-langkah apa yang akan diambil. Misalnya, penentuan lokasi pengambilan berita, topik berita, sumber berita, akomodasi, waktu,
serta distribusi penyerahan hasil liputan. Kedua, untuk memudahkan pengambilan data-data, seorang jurnalis harus pandai mendekati dan berpenetrasi dengan kondisi dan situasi masyarakat dimana dia melakukan tugas peliputannya. Ketiga, setelah semuanya terkondisikan, baru memfokuskan diri terhadap setiap detail data yang akan dijadikan berita. Keempat, melakukan pengambilan data secara langsung ke lapangan. Mengambil berita dari sumber pertama. Kelima, dalam situasi apa pun, seorang jurnalis harus mampu mengolah data menjadi suatu berita yang layak untuk disajikan. Keenam, data-data yang didapat harus selalu dikembangkan ke arah berita yang memiliki nilai berita (news value). Ketujuh, sebelum data dikirim, data harus dieedit dengan cepat dan teliti. Kedelapan, berita yang sudah jadi kemudian didistribusikan lewat saluran yang benar-benar telah dipersiapkan sebelumnya dan aman.


Pada kenyataannya, kegiatan IR ini, sering menyimpang dari keinginan dan kenyataan yang dimiliki jurnalisnya. Karena keputusan akhir, layak atau tidak layaknya sebuah berita itu ditampilkan, terletak di tangan produser atau pemimpin redaksinya. Di sebuah meja, bukan di lapangan ganas yang haus darah. Seperti tersaji dalam film di atas, kebenaran dari sebuah IR, kadang-kadang harus terhempas oleh berbagai kepentingan di luar idealismenya. Disinilah tempatnya seorang jurnalis merasa dirinya adalah sebagai sampah dari berbagai kepentingan yang tak bertanggung jawab atasnya.

Tidak ada komentar: