Minggu, 06 Januari 2008

BIG SKENARIO ITU NAMANYA MONOPOLI MEDIA MASSA

Joseph Gobel

Propagandis Nazi Jerman



Tampaknya tidak banyak orang yang menyadari bahwa Rejim Orde Baru (Orba) adalah suatu rejim yang menata dirinya melalui tatanan manajemen yang brilian sekali. Rejim ini dibuka dan ditutup melalui sistem yang begitu apik dan detail. Ini rejim yang bisa dibilang sebagai Super Puzzle in Political World. Betapa tidak. Pada awalnya rejim ini dibuat melalui tahapan sistematika pemikiran yang melibatkan para expert yang paling top di bidangnya. Dari mulai bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, psikologi, hingga .... paranormal. Mereka membentuk diri bersama-sama, dan meruntuhkan diri secara bersama-sama pula. Apa yang paling mereka sadari sebagai inti kekuatan yang harus dipegang untuk membuat, membangun, mengelola, mengembangkan, meruntuhkan, serta menyelamatkan sebuah kekuasaan ? Jawabannya adalah Monopoli Media Massa.


Masih ingat ketika Soekarno digulingkan ? Pertama kali yang dikuasai adalah semua sektor yang menguasai media informasi massa. Dihembuskan berbagai propaganda tentang issue cup de tat. Hanya dalam hitungan minggu, Soekarno terpojok dan teringkirkan. Pemutarbalikan fakta melalui media massa yang berhasil dikuasai, semakin efektif memperkuat kekuasaan rejim untuk membabat habis (genocyde ?) semua lawan-lawan politiknya. Tanpa sadar berbagai kekuatan yang pro-kontra diadu dombakan (terakhir Gus Dus menyadari dan meminta maaf). Setelah semuanya tak berkutik, media massa dikonsentrasikan dibawah satu penguasaan : rejim yang berkuasa.


Selama 32 tahun malang melintang, penguasaan monopoli tersebut berhasil menyelimuti semua keangkaramurkaan yang dilakukan rejim. Menyadari hukum alam akan selalu terjadi dan tidak dapat dihindarkan kehadirannya. Maka jauh-jauh hari, ditiupkanlah issue tentang kebebasan pers. Semua kran media mulai terbuka untuk umum. Maka bagai cendawan di musim hujan, bermunculanlah media massa bebas milik swasta. Diantaranya adalah media cetak, radio dan televisi.


Tapi sebenarnya apa yang terjadi ? Hampir seluruh media massa tersebut, diam-diam merupakan perusahaan yang dibikin atau milik dari para pemain utama rejim Orba. Dibuat dan digerakkan melalui tangan-tangan kroni, keluarga, dan partner yang dimata umum diketahui tidak banyak bersentuhan dengan kekuasaan. Ketika rejim runtuh, atas nama reformasi, pers dibiarkan semakin bebas. Dihembuskan segala hal yang berbau kesalahan rejim yang dimuarakan pada seseorang yang menjadi pucuk pimpinan rejim - yang notabene personal tersebut telah dibentengi oleh berbagai elemen yang tidak tersentuh oleh tangan-tangan hukum yang berlaku. The Untouchable. Alhasil, semua kebobrokan plus personal rejim, jadi terlupakan dan terselamatkan. Tak ada satu pun yang terpuruk di mata hukum. Sesudah itu media-media massa yang semakin kuat, telah menjadi simpanan hari tua mereka. Menghembuskan berbagai isue kriminalitas, seksual, hak-hak publik, dan segala macam hak-hak kemanusiaan yang permasalahannnya akhirnya selalu dikaburkan.


Secara kasat mata rejim hancur. tapi secara harfiah rejim justru semakin berkuasa. Indonesian elite politic undercover. Malah terakhir, melalui seorang Jenderal yang jujur dan baik hati, semua dana rejim terkumpulkan untuk membiayai segala urusan yang berkaitan dengan aktivitas informasi dan komunikasi. Masyarakat umum yang tetap lugu, mempercayainya. Padahal ujung-ujungnya meruapakan upaya penerus rejim untuk memonopoli informasi lagi. Dan kekal-lah sebuah tirani di negara kita ini.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Memang benar. Rakyat Indonesia, sampai saat ini, belum banyak menyadari bahwa dia tidak hanya jadi obyek "dibodohi" saja, tetapi juga "dibodohkan." Yang namanya monopoli itu tidak hanya mencengkeram media massa saja, juga ke seluruh bidang kehidupan bangsa. Caranya cukup cerdik : lempar batu sembunyi tangan.