Sabtu, 26 Januari 2008

20 Tahun, Belum Selesai ?

Putusan Peninjauan Kembali (PK) oleh Mahkamah Agung (MA) terhadap Kasus Pembunuhan Tokoh Kontras, Munir, telah menghasilkan keputusan baru yang sangat kontroversial. Terdakwa Pollycarpus dijatuhi hukuman penjara 20 tahun segera masuk. Keputusan ini mengundang kontroversi diantara dua pihak yang bertikai.

Pihak Pollycarpus, melalui tim pengacaranya, memandang keputusan MA tersebut sebagai kesalahan besar. MA telah memutuskan hukuman berdasarkan kepentingan pribadi antara Ketua MA, Bagir manan, dengan Pollycarpus (entah ada urusan apa ?). Pada penjatuhan keputusan ini, Bagir Manan sendiri sebagai Ketua, memimpin langsung pelaksanaan pemutusan perkaranya. Jelas hal ini mengundang reaksi keras dari kubu Pollycarpus.

Pihak Munir. Melalui Suciwati, istrinya. Memandang, keputusan ini walau pun dianggap sebagai tindakan paling berani yang dilakukan pihak kepolisian dan kejaksaan saat ini, tetap saja permasalahan belum sampai ke titik tuduhan terhadap pelaku utamanya.

Pelaku Utama. Orang Dibalik Layar. The Untouchable. Nah, inilah persoalan pokoknya. Bagi Pollycarpus, setelah merasakan pengapnya ruangan penjara yang akan menjadi peristirahatan menjelang hari tuanya, akhirnya mungkin baru menyadari bahwa dirinya hanyalah sebagai tumbal dari suatu konspirasi besar. Sedangkan bagi Suciwati dan Kontras, masalahnya tidak sependek itu. Bukan sekedar kematian Munir semata, tapi menyangkut masalah keadilan bangsa Indonesia di masa depan. Karena ketidakberdayaan pemerintah untuk menguak si pelaku utama, akan berdampak mengerikan. Bangsa ini akan selalu terperosok dalam cengkeraman kengangkaramurkaan yang terselubung oleh kekuasaan, kekayaan, serta kemunafikan. Secara pasti, modusnya akan selalu terulang dan terulang (cycling murders). Hukuman 20 tahun yang akan mengkandaskan sisa hidup Pollycarpus, tidak cukup untuk menuntaskan permasalahan sebenarnya. Pembongkaran identitas aktor intelektual berdarah dingin, merupakan kerja semua pencinta keadilan yang belum selesai. Jika kita memang masih menginginkan Indonesia di masa depan adalah Indonesia yang selalu tersenyum manis dan bermartabat. Selesaikanlah.

Rabu, 16 Januari 2008

The Hunting Party

Simon Hunt (Richard Gere) seorang reporter TV News, beserta Duck (Terrence Howard) cameraman-nya, bekerjasama merambah zona perang terpanas abad ini : dari Bosnia hingga Irak, dari Somalia hingga El Salvador. Menghindar dan berkelit dari gencarnya desingan peluru, mengumpulkan berita-berita eklusif, serta mengkoleksi banyak penghargaan Emmy.

Sesudah sama-sama terlibat dalam peperangan di Bosnia, perubahan diri menerpa mereka berdua. Selama bekerja di TV Nasional, pamor Simon memudar. Saat Duck mendapatkan promosi ke jenjang jabatan kerja yang lebih tinggi, Simon malah menghilang. Lima tahun kemudian, Duck bersama seorang reporter muda, Benjamin (Jesse Elsenberg) mengunjungi Sarajevo untuk meliput perayaan lima tahun berakhirnya perang di negeri itu. Pada kesempatan itu, Simon muncul. Bagai hantu dari masa lalu. Dari dunia yang eklusif. Ia memberitahu Duck tempat persembunyian The Fox, kriminal perang Bosnia yang paling banyak dicari. Berbekal informasi dari Simon tersebut, Duck dan Benjamin menembus kegelapan sebuah missi. Di teritorial yang sangat mencekam, mereka menguak informasi sedalam mungkin tentang The Fox . Berhasilkah ? Yuk kita nonton. Kaset bajakannya, sudah beredar luas di Indonesia.

Investigative Reporting.


Ada sebuah film baru. The Hunting Party. Film ini menggambarkan sisi-sisi sebenarnya dari sebuah Investigative Reporting (IR) dalam dunia jurnalistik. Simon Hunt (Richard Gere) menampilkan sosok jurnalis yang meyakini bahwa suatu nilai berita (news value) itu adalah realita yang sebenarnya terjadi dan harus ditampilkan sebagaimana adanya. Sedangkan Duck (Terrence Howard) berpendapat sebaliknya. Menurutnya, berita adalah realita yang dikemas untuk kepentingan sebuah tontonan dan kepentingan politik sepihak. Keduanya berseberangan, tapi keduanya juga bisa terus berjalan dengan keyakinannya masing-masing.


Investigative Reporting. Secara tex books dapat diartikan sebagai Laporan Penyelidikan. Tapi dalam dunia jurnalistik lebih dikenal sebagai Laporan Mendalam (Depth Reporting). IR dilaksanakan sebagaimana proses investigasi dilakukan, yaitu melalui tahap perencanaan (planning), sosialisasi diri (community penetrations), penentuan sasaran (focus of interest), pengambilan data langsung (report on location), pengolahan data (news proccesing), pengembangan data (news development), editing, serta penyajian berita (news expose).


Tugas melaksanakan IR ini memerlukan kematangan profesionalisme. Seorang jurnalis yang melaksanakan IR, tidak hanya matang dalam hal kemampuan jurnalistik saja, juga harus mapan dalam hal keberanian di lapangan (psy strenght). Banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam melaksanakan tugas IR ini. Tidak hanya intelektual, kalau perlu nyawa juga harus rela dipertaruhkan.


Pertama kali, harus direncanakan terlebih dahulu langkah-langkah apa yang akan diambil. Misalnya, penentuan lokasi pengambilan berita, topik berita, sumber berita, akomodasi, waktu,
serta distribusi penyerahan hasil liputan. Kedua, untuk memudahkan pengambilan data-data, seorang jurnalis harus pandai mendekati dan berpenetrasi dengan kondisi dan situasi masyarakat dimana dia melakukan tugas peliputannya. Ketiga, setelah semuanya terkondisikan, baru memfokuskan diri terhadap setiap detail data yang akan dijadikan berita. Keempat, melakukan pengambilan data secara langsung ke lapangan. Mengambil berita dari sumber pertama. Kelima, dalam situasi apa pun, seorang jurnalis harus mampu mengolah data menjadi suatu berita yang layak untuk disajikan. Keenam, data-data yang didapat harus selalu dikembangkan ke arah berita yang memiliki nilai berita (news value). Ketujuh, sebelum data dikirim, data harus dieedit dengan cepat dan teliti. Kedelapan, berita yang sudah jadi kemudian didistribusikan lewat saluran yang benar-benar telah dipersiapkan sebelumnya dan aman.


Pada kenyataannya, kegiatan IR ini, sering menyimpang dari keinginan dan kenyataan yang dimiliki jurnalisnya. Karena keputusan akhir, layak atau tidak layaknya sebuah berita itu ditampilkan, terletak di tangan produser atau pemimpin redaksinya. Di sebuah meja, bukan di lapangan ganas yang haus darah. Seperti tersaji dalam film di atas, kebenaran dari sebuah IR, kadang-kadang harus terhempas oleh berbagai kepentingan di luar idealismenya. Disinilah tempatnya seorang jurnalis merasa dirinya adalah sebagai sampah dari berbagai kepentingan yang tak bertanggung jawab atasnya.

Minggu, 06 Januari 2008

BIG SKENARIO ITU NAMANYA MONOPOLI MEDIA MASSA

Joseph Gobel

Propagandis Nazi Jerman



Tampaknya tidak banyak orang yang menyadari bahwa Rejim Orde Baru (Orba) adalah suatu rejim yang menata dirinya melalui tatanan manajemen yang brilian sekali. Rejim ini dibuka dan ditutup melalui sistem yang begitu apik dan detail. Ini rejim yang bisa dibilang sebagai Super Puzzle in Political World. Betapa tidak. Pada awalnya rejim ini dibuat melalui tahapan sistematika pemikiran yang melibatkan para expert yang paling top di bidangnya. Dari mulai bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, psikologi, hingga .... paranormal. Mereka membentuk diri bersama-sama, dan meruntuhkan diri secara bersama-sama pula. Apa yang paling mereka sadari sebagai inti kekuatan yang harus dipegang untuk membuat, membangun, mengelola, mengembangkan, meruntuhkan, serta menyelamatkan sebuah kekuasaan ? Jawabannya adalah Monopoli Media Massa.


Masih ingat ketika Soekarno digulingkan ? Pertama kali yang dikuasai adalah semua sektor yang menguasai media informasi massa. Dihembuskan berbagai propaganda tentang issue cup de tat. Hanya dalam hitungan minggu, Soekarno terpojok dan teringkirkan. Pemutarbalikan fakta melalui media massa yang berhasil dikuasai, semakin efektif memperkuat kekuasaan rejim untuk membabat habis (genocyde ?) semua lawan-lawan politiknya. Tanpa sadar berbagai kekuatan yang pro-kontra diadu dombakan (terakhir Gus Dus menyadari dan meminta maaf). Setelah semuanya tak berkutik, media massa dikonsentrasikan dibawah satu penguasaan : rejim yang berkuasa.


Selama 32 tahun malang melintang, penguasaan monopoli tersebut berhasil menyelimuti semua keangkaramurkaan yang dilakukan rejim. Menyadari hukum alam akan selalu terjadi dan tidak dapat dihindarkan kehadirannya. Maka jauh-jauh hari, ditiupkanlah issue tentang kebebasan pers. Semua kran media mulai terbuka untuk umum. Maka bagai cendawan di musim hujan, bermunculanlah media massa bebas milik swasta. Diantaranya adalah media cetak, radio dan televisi.


Tapi sebenarnya apa yang terjadi ? Hampir seluruh media massa tersebut, diam-diam merupakan perusahaan yang dibikin atau milik dari para pemain utama rejim Orba. Dibuat dan digerakkan melalui tangan-tangan kroni, keluarga, dan partner yang dimata umum diketahui tidak banyak bersentuhan dengan kekuasaan. Ketika rejim runtuh, atas nama reformasi, pers dibiarkan semakin bebas. Dihembuskan segala hal yang berbau kesalahan rejim yang dimuarakan pada seseorang yang menjadi pucuk pimpinan rejim - yang notabene personal tersebut telah dibentengi oleh berbagai elemen yang tidak tersentuh oleh tangan-tangan hukum yang berlaku. The Untouchable. Alhasil, semua kebobrokan plus personal rejim, jadi terlupakan dan terselamatkan. Tak ada satu pun yang terpuruk di mata hukum. Sesudah itu media-media massa yang semakin kuat, telah menjadi simpanan hari tua mereka. Menghembuskan berbagai isue kriminalitas, seksual, hak-hak publik, dan segala macam hak-hak kemanusiaan yang permasalahannnya akhirnya selalu dikaburkan.


Secara kasat mata rejim hancur. tapi secara harfiah rejim justru semakin berkuasa. Indonesian elite politic undercover. Malah terakhir, melalui seorang Jenderal yang jujur dan baik hati, semua dana rejim terkumpulkan untuk membiayai segala urusan yang berkaitan dengan aktivitas informasi dan komunikasi. Masyarakat umum yang tetap lugu, mempercayainya. Padahal ujung-ujungnya meruapakan upaya penerus rejim untuk memonopoli informasi lagi. Dan kekal-lah sebuah tirani di negara kita ini.

Selasa, 21 Agustus 2007

DIE HARD COMPARISSON

Terkesan sekali akan maksud Setiawan Djodi untuk membeli kembali seluruh saham Telkomsel dan Indosat yang hampir di take over seluruh kepemilikan sahamnya oleh Malayasia dan Singapura. Terlepas dari sebesar apa kepentingan bisnis yang diperoleh Djodi, secara prinsip kenegaraan dan kebangsaan, kita harus mendukung penuh maksud tersebut. Masih ingat salah satu garis utama dari Alvin Toffler ? Toffler mengatakan bahwa siapa yang menguasai informasi - dialah yang akan menguasai dunia.

Ketika mengutarakan maksudnya itu, Djodi mencontoh pesan-pesan dari film Die hard 4.0 yang ditontonnya. Dimana dalam film tersebut, pemerintah AS yang nota bene tak terkalahkan dalam penguasaan teknologi informasi, suatu ketika kecolongan. Salah seorang teknorat informasi yang sakit hati karena tergeser jabatan, berhasil menghimpun kekuatan dan hampir berhasil mengacak-acak dan menguasai seluruh sistem informasi yang menggerakan seluruh tata kehidupan negara dan bangsa.

Kalau kita membiarkan dua negara kecil menguasai sistem informasi kita, apa yang akan terjadi ? Seluruh sistem pengaturan kehidupan negara dan bangsa kita akan diatur mutlak oleh kedua negara kecil yang tidak tentu akar sejarahnya tersebut. Masih ingat ketika detik-detik Soehato akan jatuh ? Suatu sumber resmi pemerintah mengabarkan bahwa pada saat itu, tiba-tiba selama satu jam - seluruh jalur instalasi komunikasi terhenti total. Siapa yang nge-jam saluran telekomunikasi tersebut ? Tak salah lagi, pasti dilakukan oleh suatu negara yang memiliki kekuatan teknologi super canggih di dunia ini. Bisa ditebak sendiri.

Akibat kelalaian pemerintah pada penguasaan teknologi informasi ini, bangsa kita semakin terpojok dan terlecehkan.
Mulai dari pencaplokan wilayah, pembakaran hutan, penganiayaan dan pembunuhan TKI, sampai ke penjegalan kuota perdagangan, Indonesia semakin kehilangan harga dirinya.

Kelemahan semacam ini, patut kita bebankan pada betapa lemahnya kita dalam hal pengusaan informasi ini. Padahal, banyak sekali tenaga muda yang ahli dalam bidang ini. Perlu kita ketahui, para hacker dan carder kelas dunia, banyak lahir di negeri ini ?


John Mc Lane (Bruce Willis) yang mewakili generasi terdahulu dalam film tersebut, diakhir cerita mengakui bahwa saat ini bukan lagi jamannya mendapatkan power kepemilikan berdasar-kan fisik, tapi saat ini adalah era dimana informasi adalah segalanya.



Kamis, 09 Agustus 2007

ISTILAH PERS PERLU DIGANTI

Aktivitas pekerjaan jurnalistik merupakan suatu komunitas kerja yang selalu ada dibawah tekanan berbagai unsur komunitas lainnya (under pressure activity). Tekanan dari atas (upward pressure) - berupa sebuah konstelasi bermuatan politis dari suatu rezim pemerintahan yang sedang berkuasa. Tekanan dari bawah (downward pressure) - berupa tuntutan aspirasi masyarakat luas tentang keadilan untuk semua warga negara. Tekanan dari kiri dan kanan (oppositions pressure) - berupa kritisasi dari komunitas bebas terhadap kondisi masyarakat yang sedang terjadi. Oleh karena itu, aktivitas jurnalistik, saat ini lebih dikenal sebagai Press.

Entah darimana asal muasalnya, istilah Press ini - di Indonesia dikenal dengan sebutan Pers. Konotasi istilah tersebut - dengan semakin amburadulnya pengelolaan era reformasi saat ini -menjadi semakin buruk mengartikannya. Masyarakat yang kurang simpati terhadap Press, sering mengartikan Pers sebagai Peras atau pun Perusahaan. Peras berarti saat ini kegiatan pers banyak digunakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan pemerasan materi ke berbagai pihak yang dinilai memiliki kesalahan atau kelemahan pribadi. Sedangkan konotasi Perusahaan diartikan orang bahwa Pers itu merupakan suatu kegiatan untuk mencari keuntungan materi semata.

Kerancuan semacam itu perlu pengkajian ulang. Komunitas jurnalistik Indonesia perlu mencari wahana baru untuk mengartikan Press sesuai dengan maksud dan tujuan mulia yang diembannya. Bagaimana kalau diajukan istilah Jurnalis sebagai ganti dari istilah Pers ? Karena sebutan Jurnalis memiliki dua sisi arti yang memiliki konotasi elegan. Sisi yang satu Jurnalis sebagai suatu kegiatan profesi yang memiliki tanggungjawab sosial. Sedangkan sisi yang satunya lagi - Jurnalis sebagai pribadi yang selalu menjaga nama baik keprofesiannya. Espirit de corps.

Ataukah ada istilah lain yang lebih bagus lagi ?

Minggu, 05 Agustus 2007

MANAJEMEN PERS, MANAJEMEN UNIK

Prinsip dasar dari manajemen menurut G.R. Terry adalah suatu upaya memobilisasi berbagai sumberdaya untuk mencapai tujuan baik yang diharapkan. Terry mengklasifikasikan aktivitas manajemen modern berupa Perencanaan (Planning), Pengorganisasian (Organizing), Pelaksanaan (Actuating), serta Pengawasan (Controlling). Aktifitas manajemen selama ini - secara standar diterapkan pada satu susunan struktur aktivitas manjemen saja. namun berdasarkan perkembangan sosial yang terjadi, terutama dengan semakin majunya dunia informasi - standarisasi aktivitas manajemen pun mengalami perubahan yang menakjubkan. Aktivitas manajemen tidak hanya terpaku pada satu jalur kepentingan saja ( materiel indicator), tapi menjalar ke berbagai arah yang selama ini tabu untuk disentuh (inmateriel indicator). Penanganann pengelolaan aktivitas inmateriel yang selama ini merupakan bagian dari penanganan pengelolaan materiel, saat ini justru harus dipisahkan. Menurut para ahli manjemen saat ini, tanggungjawab keduanya memiliki karakter aktivitas yang sangat berbeda - yang jika dipisahkan akan menghasilkan bertambahnya nilai produktivitas didalam pengelolaan manajemen suau institusi. Contohnya : Perusahaan-perusahaan berskala dunia telah memisahkan manajemen materiel yang dipimpin oleh seorang Chief Executive Officer (CEO) dengan manejemen inmateriel yang dipimpin oleh Public Relations Officer (PRO). Antara CEO dan PRO memiliki posisi yang sama dan tanggungjawab berbeda di dalam suatu perusahaan yang menggunakannya.
Yang lebih unik lagi. Pemisahan ini tersubtitusi lagi dalam pengelolaan manajemen pers. Selain pemisahan antara CEO dan PRO tadi, di urutan bawahnya - terbagi lagi antara Pemimpin Perusahaan dengan Pemimpin Redaksi. Dimana Pemimpin Perusahaan memiliki tanggungjawab pengelolaan materiel perusahaan (produksi barang, marketing, keuangan, dan sebagainya), sedangkan Pemimpin Redaksi memilik tanggungjawab pengelolaan redaksional saja. Keduanya memilik otoritas masing. Keduanya tidak boleh berada dalam posisi saling intervensi. Keduanya harus saling mengisi untuk kemajuan perusahaan yang menaunginya. Yang satu mengejar proyek keuntungan, sedangkan yang satu lagi mengerjakan proyek idealis yang dikemas sebagus mungkin melalui seni grafis yang memikat.